<$BlogRSDUrl$>

Wednesday, December 08, 2004

Kebon Kata-nya si Faiq coba apaan ini hi hi hi
suatu sore kami, bocah-bocah laki-laki kelas empat madrasah Diniyah, pergi bersama-sama ke tersier, sebuah saluran irigasi untuk sawah yang masih baru. Airnya mengalir dengan deras. Kami mandi bertelanjang bersama. entah siapa yang memulai lalu kami bermain onani bersama. salah satu dari kami bilang lho kok manukku gak iso ngadek. lalu teman yang lain membantunya, memberitahu bagaimana caranya ngocok manuk. he he he. cilik-cilik wis saru.. ini pendidian sex lho. ho ho ho

Saturday, April 17, 2004

Dibandingkan dengan teman-teman yang lain sepertinya aku yang paling tidak mengetahui cerita sandiwra radio. Teman-teman mengikuti sandiawara berseri itu, mereka hafal nama-nama tokohnya.... tapi aku tidak begitu tahu... di rumah aku malah seringkali mendengar sandiwara radio keluarga Ibuku sayang ibuku malang. Ada pak Sasongko, baskoro, .....ah aku sudah lupa. aku masih ingat iklannya hemaviton dan brodrexin. dan keluargaku seingatkuk juga mengonsumsi hemaviton mungkin juga ini pengaruh iklan.
Perang-perangan

Setiap hari kamis sore setelah jaaah solat ashar di masjid kami segara beralari ke tempat Lek Man. Kami rebutan duduk di atas tanah. Kursi kami biarkan kosong. Tidak ada yang berani duduk di kursi. Kami bukan tamu. kami hanya numpang mendengar sandiwara radio Kamandanu. radio sudah disetel di atas meja. Kami duduk berdesak-desakkan. mendengarkan dengan seksama suaranya. kami mengeluh ketika ceritanya berhenti dan terdsengar suara iklan obat sakit kepala. Kalau ada yang berisik sedikit langsung dibentak oleh kawan-kawean yang lain. Begitu sandiwara berakhir kami segra bubar. Ada yang berlalri ada yang hanya jalan. Ada yang langsung menuju penjual jajanan di sekitar sekolah ada yang lari dengan cepat menuju rumahnya, ada juga yang masuk ke kelas untuk mencatat pelajaran.

kebanyakan teman-temanku jajan sambil membicarakan sandiwara yang barusan kami dengar lalu setelah itu kami main perang-perangan. Ujuang sarung kami sampirkan ke belakang seperti pendekar. Kopyah dicopot atau dipakai tapi dengan melintang. Kami tiba-tiba menjadi seorang prajurit, sebagian mengaku sebagai kamandanu atau pahlawan-pahlawan yang lain. Kami tanding dengan tangan kosong.

Ada kata-kata yang kami peroleh datri radio; bertanding dengan tangan kosong, snejata rahasia, ki sanak, jurus, ajian....

Sunday, December 21, 2003

Kata Ibu

Ibu pernah cerita bahwa waktu kecil aku punya rasa sosial yang besar. Pernah suatu waktu aku mengambil permen banyak dari dagangan ibu, lalu kubagi-bagikan pada teman-teman. Dan pernah juga aku sangat ingin memberi hadiah pada seupuku yang belum lama menjadi yatim; bapaknya tertabrak truk. kuberikan sebuah peci putih yang tidak muat lagi kupakai. Sepupuku itu yang masih kecil, dan ibunya menerimanya dengan gembira. Tapi aku lupa bahwa peci putih itu sudah bukan milikku tapi sudah diminta adikkui beberapa waktu sebelumnya. Adikku menangis dan meminta kembali peci itu dari sepupuku.

Pernah di suatu lebaran aku merasa kalah dengan adikku. Waktu itu masih lebaran. Kami sekeluarga berkunjung ke Pati. kami berkunjung ke rumah-rumah paman dan bibi. Setiap kali pamit aku dan adikku diberi uang. Aku senang sekali. Kami juga berkunjung ke bibiku yang paling muda. Dia masih punya anak kecil. Lebih kecil dari adikku. Dia yatim. Aku kasihan dengan dia. Waktu kami pamitan Bapak ingin memberi uang pada sepupu kecilku itu tapi bapak tidak punya uang. Akhirnya adikku mengeluarkan sebagian uang pemberiaan bibi atau paman yang lain. Dia berikan uang itu kepada sepupu kami yang kecil dan yatim itu. Oh aku bangga pada adikku. ....Aku malu mengapa bukan aku yang merogoh sakuku waku itu dan mengeluarkan uang pemberian paman dan bibi yang lain untuk kuberikan pada sepupu kecil dan yatim itu.

Ya ternyata adikku lebih dermawan dari aku. Apakah aku masih seperti waktu aku kecil seperti kata ibu (punya rasa sosial yang tinggi ) ? Semoga saja.

Suatu waktu seorang teman menyadarkanku bahwa seringkali aku EGOIS. Semoga aku bisa mengontrol egoku. Aku harus banyak berbagi karena ternyata sudah banyak, banyak sekali orang-orangyang berbagi untukku. Banyak sekali orang yang telah menolongku. banyak sekali orang yang telah berbaik hati padaku. Dan.... ternyata aku sering kali aku tidak mengucapkan terimakasih. Aku berharap aku bisa membalasa semua kebaikan orang lain. ya semuanya.... kalau ternyata ak tidak bisa semoga tuhan membalas mereka dengan balasan yang lebih baik. Kalaupun aku bisa memabalsanya aku tetapa berharap tuhan melimpahinya dengan balasan yang lebih baik dan berlipat ganda.

terima kasih

Friday, December 12, 2003

Kata orang tuaku aku dilahirkan di bulan puasa. Tanggal lahirku ditulis dengan kapur tulis putih di punggung lemari . Aku termasuk anak yang nakal sampai ibuku pernah mengikat tangan dan kakiku dengan selendang dan ditinggal dirumah sendirian. Pernah suatu waktu aku dibawa ke orang 'pintar' dengan tujuan agar aku tidak nakal lagi. Tapi orang 'pintar' itu bilang; ya namanya juga anak kecil, wajarlah kalau nakal. ha ha ha.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?